Thursday, 22 October 2015

LIWA: KOTA KECIL DENGAN PANORAMA DI SEKITARNYA YANG MEMPESONA

Perjalanan wisata selama hidup satu tahun di balik punggung Bukit Barisan Selatan, tepatnya pada tahun 2013 sangat mengesankan. Padatnya volume bekerja dengan rutinitas yang itu-itu saja dan terisolasi di daerah yang bisa dikatakan ''terisolir'', seringkali membuat kami mengalami kejenuhan. Untuk menikmati hidup yang lebih enjoy, kita seringkali menyempatkan waktu untuk refresh otak, walau sekedar di Liwa dan sekitarannya. Apa saja si, tempat-tempat yang saya  kunjungi selama tinggal di Bukit Barisan ?? pastinya dengan daya tarik tersendiri. Sebelumnya saya akan coba memperkenalkan sedikit tentang kota kecil yang bernama ''Liwa''.


Liwa, mungkin terdengar asing bagi orang awam. Ya, Liwa, sebuah kota di Kabupaten Lampung Barat sekaligus merupakan ibukota dan pusat pemerintahan di Lampung Barat. Kota ini terletak di Kecamatan Balik Bukit, tepatnya 241 km dari ibukota provinsi (Bandar Lampung). Jauuh yaa? Ini merupakan jarak tempuh terjauuh dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten/kota lain di Provinsi Lampung. Kota Liwa, rute perjalanan bisa dari darat, laut maupun udara. Rute 1: dari Bandara Radin Intan II, sekitar 7-8 jam, rute 2: dari Bakauheni-Rajabasa-Liwa sekitar 10 jam.
Tugu Liwa

Tugu Selamat Datang

(Sumber foto: Dokumen pribadi, 2013


Perjalanan kita di Sumbagsel (Sumatera bagian Selatan) kita mulai dari kota ini. Langsung aja kita simak, apa saja si destinasi wisata yang patut dikunjungi di Lampung Barat dan sekitarnya:

 1. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) 

TNBBS adalah sebuah taman nasional yang ditujukan untuk melindungi hutan hujan tropis pulau Sumatra beserta kekayaan alam hayati yang dimilikinya. taman nasional ini memiliki flora dan fauna endemik. Tumbuhan yang menjadi ciri khas taman nasional ini adalah bunga bangkai jangkung (Amorphophallus decussilvae), bunga bangkai raksasa (A. titanum), Bunga Raflesia (Rafflesia arnoldi) dan anggrek raksasa/tebu (Grammatophylum speciosum). Jenis ini tumbuh di sepanjang TNBBS mulai dari Lampung sampai Bengkulu. Selain flora, TNBBS juga menjadi habitat berbagai jenis satwa liar. Tiga spesies kunci yang menjadi kekhasan TNBBS adalah badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis), harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), dan gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus). Banyak obyek wisata yang dapat dikunjungi di dalam kawasan ini, antara lain: a) Kubu Perahu, Balik Bukit, Lampung Barat: bumi perkemahan, air terjun, menjelajahi hutan, dan pengamatan satwa/tumbuhan. b) Tampang, Blubuk, Danau Menjukut, Way Sleman, Blimbing: menjelajahi hutan, wisata bahari, berenang, bersampan, pengamatan tumbuhan (raflesia, bunga bangkai), berkemah, dan menyelusuri sungai. c) Sukaraja Atas: menjelajahi hutan, berkemah, pengamatan satwa/tumbuhan (bunga bangkai jangkung). d) Suwoh: bersampan, berenang, sumber air panas, menjelajahi hutan dan berkemah. e) Kawasan Sekincau: pendakian Gunung Sekincau, danau tapir, danau air panas, air terjun, berkemah, penagamtan jenis tumbuhan/satwa.

Air Terjun di Kawasan TNBBS

Bumi Perkemahan TNBBS, Kubu Perahu

Jembatan Hijau di dalam Kawasan Bumi Perkemahan TNBBS

Danau Tapir di Kawasan Gunung Sekincay, Way Tenong

(Sumber foto: Dokumentasi Pribadi)

2. Kawasan Sekuting

 Kawasan ini merupakan Islamic Center Kota Liwa, tepatnya di Kecamatan Balik Bukit, Lampung Barat. Kawasan Sekuting dan sekitarnya (kawasan sekuting terpadu) diperuntukan sebagai daerah pusat sarana dan prasarana fasilitas umum bagi masyarakat di kabupaten Lampung Barat.
 Masjid di Kawasan Islamic Center Kota Liwa 

Gerbang Kawasan Sekuting

(Sumber foto: dokumen pribadi, 2013)

 3. Danau Ranau 

Danau Ranau adalah danau terbesar ke dua di Sumatera. Danau ini terletak di perbatasan Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKU Selatan) Provinsi Sumatera Selatan. Danau ini tercipta dari gempa besar dan letusan vulkanik dari gunung berapi yang membuat cekungan besar. Topografi danau Ranau adalah perbukitan yang berlembah hal ini menjadikan danau Ranau memiliki cuaca yang sejuk. Ada tiga tempat tujuan utama bagi para pengunjung Danau Ranau: a) Wisma PT Pusri (Sumatera Selatan): Tepat di tengah danau terdapat pulau yang bernama Pulau Marisa. Di sana terdapat sumber air panas yang sering digunakan para penduduk setempat ataupun para wisatawan yang datang ke pulau tersebut, terdapat air terjun, dan penginapan b) Pantai Sinangkalan (Sumatera Selatan) dan c) Wisata Lumbok Seminung, Liwa (Lampung): tempat mencari ikan oleh nelayan (mujair, kepor, kepiat dan harongan), kuliner tradisional tepi danau, dermaga lumbok, dan penginapan.
Danau Ranau dari berbagai titik masuk
(Sumber foto: dokumen pribadi, 2013)

4. Krui 


Krui dulunya merupakan bagian dari Lampung Barat, tetapi sejak April 2013 telah menjadi daerah otonom baru yaitu sebagai ibukota Kabupaten Pesisir Barat. Krui berada di daerah pesisir Samudera Hindia bagian Barat. Sebagai daerah pesisir, Krui memiliki potensi pariwisata utama yaitu pantai. Potensi Krui sebagai daerah tujuan wisata sudah terkenal sampai mancanegara. Wilayah ini sering dikunjungi wisatawan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara, dengan tujuan utama untuk berselancar. Belakangan ini, arus kunjungan wisata ke wilayah ini semakin meningkat dengan semakin gencarnya promosi di dalam negeri maupun di luar negeri melalui media cetak maupun elektronik. Kedepannya, krui akan dijadikan salah satu tujuan wisata unggulan dengan akan dibukanya Bandara Seray sebagai sarana transportasi cepat menuju wilayah ini. Tempat-tempat yang sering dijadikan wahana wisata dan sering dikunjungi oleh banyak wiasatwan, antara lain: Pantai Labuhan Jukung, Tanjung Setia dan Pantai Walur. Tak terlupa, di daerah krui banyak variasi makanan hasil olahan laut yang menggiurkan lidah.
Wisata Pantai di Kawasan Krui
(Sumber foto: dokumen pribadi, 2013)

5. Pantai di Bintuhan, Kabupaten Kaur - Bengkulu 

Jika dari Lampung ke Bengkulu lewat Lintas Barat Sumatera, pasti akan disuguhkan dengan perjalanan yang kelak-kelok dan curam, namun dibalik itu semua disajikan pemandangan yang luar biasa. Di sepanjang jalan tersebut, mata kan dimanjakan oleh pemandangan laut dan pantai yang mempesona di balik punggung Bukit Barisan Selatan. Beberapa pantai yang memiliki daya tarik wisatawan adalah: a) Pantai Way Hawang, terletak di Desa Way Hawang ditepian jalan lintas Lampung – Bengkulu. Pantai ini memiliki pasir putih yang merupakan teluk sehingga airnya tenang dan bersih. Obyek wisata pantai ini terletak Kabupaten Kaur diantara Bintuhan dengan Merpas. b) Pantai “Laguna Ujung Lancang” terletak di desa Merpas, kecamatan Nasal, kabupaten Kaur. Pantai yang memiliki daya tarik berupa pantai indah, landai serta berpasir putih ini, merupakan salah satu objek wisata andalan pariwisata Kabupaten Kaur. Banyak wisatawan yang berkunjung baik dari Bengkulu maupun dari Lampung, karena jaraknya yang dekat perbatasan antara Provinsi Lampung dan Bengkulu. c) Pantai Linau, terletak di sisi jalan lintas Kaur menuju Lampung Barat yang berjarak sekitar 20 Km dari pusat kota Bintuhan, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Pantai Linau merupakan objek wisata pantai yang berupa teluk dengan pantai berpasir putih dan pemandangan bawah laut yang indah. Tidak jauh dari lokasi pantai terdapat juga situs benteng peninggalan Inggris yang dikenal dengan benteng Linau.
Pantai-pantai di Kabupaten Kaur, Bengkulu
(Sumber foto: dokumen pribadi, 2013)

6. Taman Nasional Way Kambas

 Taman Nasional Way Kambas merupakan perwakilan ekosistem hutan dataran rendah yang terdiri dari hutan rawa air tawar, padang alang-alang/semak belukar, dan hutan pantai di Sumatera. Taman nasional ini terletak di Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Taman Nasional ini identik dengan konservasi gajah Sumatra, sehingga menjadikan daya tarik tersenidiri bagi wisatawan. Dalam kawasan TN terdapat pusat pelatihan gajah yang didirikan sejak tahun 1985. Jaraknya sekitar 9 km dari pintu gerbang. Sampai saat ini, telah berhasil mendidik dan menjinakkan gajah sekitar 290 ekor. Gajah-gajah ini dilatih sebagai gajah tunggang, atraksi, angkutan kayu dan bajak sawah. Disini, wisatawan dapat menyaksikan bagaimana pelatih mendidik dan melatih gajah liar, atraksi gajah main bola, menari, berjabat tangan, hormat, mengalungkan bunga, tarik tambang, berenang dan lainnya. Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi di kawasan TN Way Kambas, antara lain: a) Pusat Latihan Gajah Karangsari b) Atraksi gajah c) Way Kambas: untuk kegiatan berkemah d) Way Kanan: penelitian dan penangkaran badak sumatera dengan fasilitas laboratorium alam dan wisma peneliti. e) Rawa Kali Biru, Rawa Gajah, dan Kuala Kambas: menyelusuri sungai Way Kanan, pengamatan satwa (bebek hutan, kuntul, rusa, burung migran), padang rumput dan hutan mangrove.
Taman Nasional Way Kambas
(Sumber foto: dokumen pribadi, 2013)

7. Jembatan Ampera dan Sungai Musi 

Jembatan Ampera merupakan sebuah jembatan yang terletak di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan. Jembatan ini menjadi identitas kota, karena terletak di tengah-tengah kota Palembang yang menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Peresmian pemakaian jembatan sudah dilakukan sejak tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara. Namun, setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Dari jembatan ini kita dapat melihat aktivitas di sungai musi, berfoto, dan menikmati keelokan Kota Palembang. Di sekiataran jembatan, terdapat banyak kuliner dan cinderamata khas Palembang. Jembatan dapat dinikmati Lebih menarik saat petang, lahan parkir ditepian Sungai Musi dan di bagian Benteng Kuto Besak. Kegiatan: Saat petang bersantai dg keluarga dg suguhan lampu warna warni. Rute: Liwa- OKU Selatan-Prabumulih-Muara Enim-Ogan Ilir-Indralaya-Palembang. 

Jembatan Ampera dan Sunga Musi
(Sumber foto: dokumen pribadi, 2013)

 8. Kebun Raya Liwa 

Kebun Raya Liwa Kebun Raya Liwa terletak di Pusat Kota Liwa tepatnya di Desa Kubu Perahu, Kecamatan Balik Bukit, Kota Liwa, Kabupaten Lampung Barat. Berada di punggung Pegunungan Bukit Barisan membuatnya berhawa sejuk dan juga dikaruniai panorama yang indah. Kebun raya ini memiliki area seluas 116 ha yang difokuskan pada koleksi tumbuhan hias Indonesia dan representasi Flora Sumatera bagian Selatan (TNBBS), baik yang berbunga maupun berdaun indah. Kebun Raya Liwa adalah jendela bagi kekayaan tumbuhan diTaman Nasional Bukit Barisan Selatan. Kawasan Kebun Raya Liwa berada di ketinggian 890–948 m dpl. Kondisi topografi nya yangm bervariasi terdiri dari Punggung Bukit (Ridge), Lembah (Valley), Tanah Cekung (Convex),Tanah Cembung (Concave), Dan Sedikit Tanah Datar (Level/Flat) menjadikannya kawasan yang mempunyai kontur dengan ketinggian tanah yang berbeda-beda, berbukit-bukit dan bergelombang serta adanya sumber air di beberapa tempat. Dibalik kontur yang seperti ini, justru menjadikan daya tarik tersendiri untuk menikmati keindahan alam di sekitar Kebun Raya Liwa. Kebun Raya Liwa dimanfaatkan sebagai sarana Konservasi, penelitian, pendidikan, wisata, dan jasa lingkungan. Beberapa tempat yang menarik dikunjungi di sekitaran Kebun Raya antara lain: a) Taman Makam Pahlawan Kota Liwa; b) Danau Hamtu Biu; c) Air terjun TNBBS d) Taman Araceae: duduk santai dengan menikmati indahnya alam Bukit Barisan Selatan e) Taman Hias. 

Kawasan kebun Raya Liwa
(Sumber foto: dokumen pribadi, 2013 dan 2015)


9. Museum Lampung


 Tidak hanya wisata alamnya, tetapi juga wisata sejarah. Ya, Museum Lampung. Museum Negeri Lampung atau Museum Lampung, adalah sebuah museum yang terletak di Kota Bandar Lampung, provinsi Lampung. Museum ini merupakan museum pertama dan terbesar di provinsi Lampung dan merupakan kebanggaan masyarakat provinsi Lampung. Lokasinya sangat strategis, hanya 15 menit perjalanan dari Kota Bandar Lampung. Pembangunan Museum Lampung dimulai sejak tahun 1975 dan peletakan batu pertama pada tahun 1978. Akan tetapi, peresmiannya baru dilaksanakan pada 24 September 1988 yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu, Prof. Dr. Fuad Hasan. Ruwa Jurai yang diabadikan sebagai nama museum ini diambil dari tulisan Sai Bumi Ruwa Jurai dalam logo resmi Provinsi Lampung yang diresmikan penggunaannya sejak 1 April 1990.

Kawasan Musemum Lampung
(Sumber foto: dokumen pribadi, 2013)


10. Wisata Kopi Luwak Lampung Barat


Salah satu kopi terkenal di Sumatra adalah Kopi Luwak. Lampung sebagai penghasil terbesar kopi robusta di Sumtra, maka tidak jarang yang sekaligus memelihara luwak sebagai home industry kopi. Kopi luwak memiliki cita rasa tersendiri, dari rasa, aroma dan kenikmatan saat meminumnya. Harga jual kopi ini termasuk lumayan, yaitu Rp. 50.000,-/ ons. Dari cara pembuatan yang masih menggunakan alat-alat tradisional dan sederhana, justru membuat keaslian dari kopi luwak tetap terjaga. Di kawasan Lampung Barat, tepatnya di Pekon Way Mengaku, Liwa terdapat beberapa produsen kpi luwak, salah satunya adalah Rizky luwak yang pernah kami kunjungi. Oleh ibu pemilik, kami dijelaskan proses pembuatannya. Dri mulai ijin pemeliharaan luwak ke BKSDA sampai menyicip kopi yang sudah diseduh dalam kesejukan udara Way Mengaku..hmmm..nikmaaattt…
Salah lokasi produksi rumahan kopi luwak di Pekon Way Mengaku, Balik Bukuit, Lampung Barat
(Sumber foto: dokumen pribadi, 2013)


 Gimanaaaa?? Indah dan menarik bukaann?? Luangkan sejenak waktumu untuk refres, keluarlah dari zona nyaman dan nikmati keindahan alam Indonesia. #happytravelling :)

Tuesday, 22 May 2012

MEMBACA KARAKTER ORANG LEWAT TULISAN TANGAN

Saat kita menulis sebenarnya tangan kita hanya sebagai alat untuk memegang pena. Gaya tulisan kita itu berasal dari pikiran bawah sadar kita. maka bisa dikatakan bahwa tulisan bisa mengungkapkan berbagai perasaan emosi si penulisnya. Tentu saja untuk mengetahuinya tidak sembarangan ada ilmu membaca rahasia dibalik tulisan tangan atau yang disebut dengan graphology. Ambil pulpenmu dan tuliskan sesuatu yang mana yah kira-kira karaktermu? Berikut penjelasan secara garis besarnya. ♣ Tekanan Dari kuat atau ringannya tekanan tulisan seseorang kita dapat mengetahui karakter orang tersebut. Bisa kamu perhatikan dengan memperhatikan bekas goresan dibalik kertas. Tekanan yang kuat: Orang yang tulisannya tebal hingga menimbulkan bekas coretan dibalik kertas biasanya mereka memiliki emosional yang tinggi. Terlalu mendalami perasaan mereka baik itu bahagia atau sakit hati. Mereka menyerap segala suatu seperti spon. Biasanya mereka juga memiliki selera yang tinggi. Tegas dan memiliki keinginan yang kuat bahkan cenderung memaksakan orang lain untuk menuruti kemauan meraka. Makanya tak jarang orang yang memiliki tekanan tulisan seperti ini biasanya kaku susah menyesuaikan diri dalam pergaulan. Tekanan yang ringan: Tulisan yang memiliki tekanan halus mencerminkan kepribadian yang tenang dan santai. Mereka lebih bertoleransi pengertian sulit mengambil keputusan dan biasanya mudah terpengaruh ♣ Ukuran Tulisan besar Orang yang menulis dengan ukuran tulisan yang besar biasanya cenderung suka diperhatikan selalu ingin tampil didepan dan ingin didengarkan. Tulisan kecil Orang yang menulis dengan ukuran kecil biasanya lebih memperhatikan detail introspektif cenderung lebih pendiam dan mandiri. ♣ Kemiringan Miring ke kanan Orang dengan tulisan seperti ini biasanya memiliki karakter yang impulsif emosional aktif suka bergaul ramah menyukai tantangan lebih terbuka (ekstrovert) dan ekspresif. Miring ke kiri Jenis tulisan seperti ini biasanya penulisnya bersikap menutup diri (introvert). Lebih protektif selalu berpikir logis dan mencerminkan sifat seseoarang yang lebih menarik diri. Tegak lurus Orang yang memiliki tulisan tegak lurus mencerminkan seseorang yang bisa mengontrol diri dan bisa menahan Saat kita menulis sebenarnya tangan kita hanya sebagai alat untuk memegang pena. Gaya tulisan kita itu berasal dari pikiran bawah sadar kita. maka bisa dikatakan bahwa tulisan bisa mengungkapkan berbagai perasaan emosi si penulisnya. Tentu saja untuk mengetahuinya tidak sembarangan ada ilmu membaca rahasia dibalik tulisan tangan atau yang disebut dengan graphology. Ambil pulpenmu dan tuliskan sesuatu yang mana yah kira-kira karaktermu? Berikut penjelasan secara garis besarnya. ♣ Tekanan Dari kuat atau ringannya tekanan tulisan seseorang kita dapat mengetahui karakter orang tersebut. Bisa kamu perhatikan dengan memperhatikan bekas goresan dibalik kertas. Tekanan yang kuat: Orang yang tulisannya tebal hingga menimbulkan bekas coretan dibalik kertas biasanya mereka memiliki emosional yang tinggi. Terlalu mendalami perasaan mereka baik itu bahagia atau sakit hati. Mereka menyerap segala suatu seperti spon. Biasanya mereka juga memiliki selera yang tinggi. Tegas dan memiliki keinginan yang kuat bahkan cenderung memaksakan orang lain untuk menuruti kemauan meraka. Makanya tak jarang orang yang memiliki tekanan tulisan seperti ini biasanya kaku susah menyesuaikan diri dalam pergaulan. Tekanan yang ringan: Tulisan yang memiliki tekanan halus mencerminkan kepribadian yang tenang dan santai. Mereka lebih bertoleransi pengertian sulit mengambil keputusan dan biasanya mudah terpengaruh. ♣ Ukuran Tulisan besar Orang yang menulis dengan ukuran tulisan yang besar biasanya cenderung suka diperhatikan selalu ingin tampil didepan dan ingin didengarkan. Tulisan kecil Orang yang menulis dengan ukuran kecil biasanya lebih memperhatikan detail introspektif cenderung lebih pendiam dan mandiri. ♣ Kemiringan Miring ke kanan Orang dengan tulisan seperti ini biasanya memiliki karakter yang impulsif emosional aktif suka bergaul ramah menyukai tantangan lebih terbuka (ekstrovert) dan ekspresif. Miring ke kiri Jenis tulisan seperti ini biasanya penulisnya bersikap menutup diri (introvert). Lebih protektif selalu berpikir logis dan mencerminkan sifat seseoarang yang lebih menarik diri. Tegak lurus Orang yang memiliki tulisan tegak lurus mencerminkan seseorang yang bisa mengontrol diri dan bisa menahan perasaanya. Tidak suka diatur dan mempertimbangkan sesuatu lebih ke pikiran dari pada perasaan.

Karakter Orang Dilihat Dari Kentutnya

NGGUYU DELOK wae..! Ayoo diulang lagi.. Melihat sifat orang atau karakter seseorang, ternyata bisa dilihat dari kentutnya: Tidak Jujur. : Orang yang abis kentut nyalahin orang lain. Bodoh. : Orang yang nahan kentut sampe berjam-jam. Bijaksana. : Orang yang tau kapan harus kentut. Sengsara. : Orang yang pengen kentut tapi gak bisa-bisa. Misterius. : Orang yang kalo kentut ga ketahuan orang lain. Pede. : Orang yang selalu yakin kalo kentutnya gak bau. Sadis. : Orang yang abis kentut dikibas-kibasin ke temen sebelahnya. Strategis. : Orang yang kalo kentut bisa mengalihkan perhatian orang lain sampe lupa soal kentut tersebut. Idiot. : Orang yang habis kentut terus ambil napas dalam-dalam buat ngisep lagi kentutnya. Irit. : Orang yang kalo kentut dikluarin dikit demi dikit. Sombong. : Orang yang seneng nge-bau-in kentutnya sendiri. Ramah. : Orang yang dikentutin orang lain tapi tetep senyum. Childish. : Orang yang kalo kentut berendam di air biar bisa liat blug-ublugnya. Jujur. : Orang yang langsung ngaku begitu dia kentut. Jenius. : Orang yang bisa mengidentifikasi ini bau kentut siapa. Sial. : Orang yang selalu dikentutin orang lain dan bau. Kurang Kontrol. : Orang yang kalo kentut sampe keluar ampasnya. Kurang Kerjaan. : Orang yang baca artikel kentut ini sampe abis.=D=))=D ŴåЌåЌååЌ-ΨåЌååЌåЌ Sukurin kapoooook loe.. hihihi Sumber : pesan BBM Pengarang : Anonymous, gk tau ah, si kentut nya blum ngasih tau sih… Wkwkwk

PRAKTEK KERJA LAPANGAN BALAI BESAR PENELITIAN BIOTEKNOLOGI DAN PEMULIAAN TANAMAN HUTAN

A. Deskripsi Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH) Yogyakarta
Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH) terbentuk melalui Permenhut no. P.38/ Menhut-II/ 2006 pada tanggal 2 Juni 2006 yang terletak di Jalan Palagan Tentara Pelajar Km 15 Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Institusi ini bekerja di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan yang mengemban tugas melaksanakan penelitian dalam bidang bioteknologi dan pemuliaan tanaman hutan. Bangunan utama dan fasilitas pendukung lainnya dibangun sejak tahun 1990 menempati areal seluas 5,5 Ha merupakan hasil kerjasama Pemerintah Republik Indonesia melalui Departemen Kehutanan dengan Pemerintah Jepang melalui JICA (Japan International Coorporation Agency). BBPBPTH berperan dalam menyediakan IPTEK untuk mendukung pembangunan Hutan Tanaman maupun Hutan Rakyat terutama terkait dengan penyediaan benih unggul. Pengunaan benih unggul diharapkan dapat mempercepat rehabilitasi dan meningkatkan produktivitas serta pada akhirnya mampu meningkatkan nilai ekonomi dari Hutan Rakyat dan menurunkan resiko serangan penyakit dan hama tanaman. Sejarah BBPBPTH diawali dengan didirikannya Unit Produksi Benih di bawah Ditjen RRL yang berlokasi di Kaliurang pada tahun 1985-1990. Selanjutnya pada tahun 1990-1992 dilaksanakan pembangunan gedung dan peralatan dengan dukungan dana dari JICA yang diresmikan pada tahun 1993 oleh Menteri Kehutanan, kemudian pada tahun 1994-2000 gedung ini digunakan sebagai kantor Balai Litbang Pemuliaan Tanaman Hutan di bawah Badan Litbang Kehutanan. Kantor Balai Litbang Pemuliaan Tanaman Hutan ini berubah menjadi Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (P3BPTH) pada tahun 2000 sampai 2005, sedangkan 2005 sampai 2006 kantor ini menjadi bagian dari Puslitbang Hutan Tanaman. Awal tahun 2006 sampai sekarang namanya telah disyahkan menjadi Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH). Upaya peningkatan produktivitas hutan tanaman sengon (Paraserianthes falcataria) dilakukan melalui 2 pendekatan, yaitu peningkatan mutu genetik tanaman sengon dan peningkatan produktivitas hutan sengon rakyat. Dalam rangka memperoleh benih unggul jenis sengon (Paraserianthes falcataria), Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Yogyakarta sejak tahun 1995 telah melakukan penelitian melalui pembangunan Kebun Benih Semai Uji Keturunan (KBSUK) Sengon di Candiroto bekerjasama dengan Japan International Corporation Indonesia (JICA) dan telah menghasilkan beberapa pohon induk terseleksi. Individu-individu ini selanjutnya akan diuji kembali melalui Kebun Benih Semai Uji Keturunan Generasi Kedua Jenis Sengon. Untuk membuktikan peningkatan genetik sengon yang sesungguhnya dari KBSUK Sengon Candiroto telah dibangun Uji Perolehan Genetik Sengon (genetic gain trial) yang berlokasi di Kabupaten Kediri, sedangkan upaya peningkatan produktivitas hutan sengon rakyat akan dilakukan uji produktivitas hutan sengon dengan menitikberatkan pada aspek silvikultur. Untuk mendukung semua kegiatan uji coba, diperlukan informasi tentang pengendalian hama potensial yang menyerang tanaman sengon salah satunya dengan menggunakan varietas/klon sengon yang resisten. Beberapa aktivitas penelitian yang sedang dilakukan pada Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan : • Uji keturunan F1 di Candiroto, dilanjutkan F2 di Kediri, Jawa Timur • Uji perolehan genetik di Kediri • Uji resistensi BBPBPTH merupakan struktur organisasi baru yang terbentuk sejak dikeluarkannya Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P. 38/Menhut-II/2006 tanggal 2 Juni 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kehutanan. Sejalan dengan Permenhut tersebut, BBPBPTH mempunyai tugas melaksanakan penelitian di bidang bioteknologi dan pemuliaan tanaman hutan berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh Kepala Badan Litbang Kehutanan. Pelaksanaan kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan penelitian tetap dilanjutkan berdasarkan visi dan misi yang telah ditetapkan dalam Renstra tahun 2003-2009, sedangkan untuk kegiatan non penelitian melakukan kegiatan yang menyangkut kinerja BBPBPTH terdiri dari penyelenggaraan program anggaran, kerjasama penelitian, pelayanan teknis kepada pengguna dan pemangku kepentingan, serta kegiatan evaluasi dan pelaporan. Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut, BBPBPTH menyelenggarakan fungsi penyusunan rencana program kerja dan anggaran penelitian bidang bioteknologi dan pemuliaan tanaman hutan, pelaksanaan kerjasama penelitian dibidang bioteknologi dan pemuliaan tanaman hutan, pelaksanaan penelitian dibidang bioteknologi dan pemuliaan tanaman hutan, pemberian pelayanan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) hasil-hasil penelitian serta layanan penelitian dibidang bioteknologi dan pemuliaan tanaman hutan, pelaksanaan pengelolaan sarana prasarana penelitian dibidang bioteknologi dan pemuliaan tanaman hutan, pelaksanaan pengelolaan kawasan hutan dengan tujuan khusus, pelaksanaan Evaluasi dan Pelaporan, serta pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai Besar. BBPBPTH Yogyakarta memilki 5 laboratorium yaitu 1. Laboratorium Sifat fisika dan kimia kayu Laboratorium ini sebagai ruang analisa sifat kayu terutama untuk sifat fisika dan kimia. Informasi dari sifat fisika dan kimia kayu yang diteliti di BBPBPTH sangat diperlukan guna mengetahui karakter dan atau struktur kayu tersebut yang berguna untuk pengembangan selanjutnya sesuai dengan tujuan yang diinginkan. 2. Laboratorium Kultur Jaringan Laboratorium Kultur jaringan merupakan salah satu bagian dari kelompok peneliti (Kelti) Bioteknologi Tanaman Hutan. Di laboratorium ini dilakukan kegiatan pembiakan vegetatif mikro. Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional. Dengan adanya laboratorium kultur jaringan di BBPBPTH ini maka diharapkan jenis – jenis yang sedang dilakukan penelitian dan pengembangannya akan lebih mudah diketahui jenis apa saja yang bisa dikembangkan melalui metode kultur jaringan dan mempercepat produksi untuk dikembangkan lebih lanjut. 3. Laboratorium Hama dan Penyakit Laboratorium Hama dan Penyakit merupakan salah satu bagian dari kelompok peneliti (Kelti) Pemuliaan Tanaman Hutan. Di laboratorium Hama dan Penyakit ini terdapat fasilitas yang bisa dipergunakan untuk mengisolasi penyebab penyakit pada tanaman khususnya jamur. Dari bagian tanaman yang terserang penyakit diambil dan dilakukan isolasi untuk mengetahui identitas penyebab penyakit yang menyebabkan kerusakan pada tanaman. Selanjutnya dari hasil isolasi bisa dilakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop. Praktek Kerja Lapangan dilakukan di dalam laboratorium Hama dan Penyakit tanaman ini. 4. Laboratorium benih Selain sebagai tempat penyimpanan benih (Dry Cold Storage) di lab ini juga merupakan laboratorium untuk kegiatan riset pemuliaan jenis-jenis yang diteliti untuk menentukan strategi dan teknologi reproduksinya sebagai alat untuk menunjang kegiatan pemuliaan. 5. Laboratorium Genetika Molekuler Laboratorium genetika molekuler merupakan salah satu bagian dari kelompok peneliti (Kelti) Bioteknologi Tanaman Hutan. Di laboratorium ini dilakukan analisis secara genetik menggunakan DNA. DNA merupakan kumpulan sequence basa tertentu yang membawa sifat keturunan. Teknik analisis DNA mempunyai banyak metode. Pemilihan metode yang akan digunakan tergantung dari tujuan penelitian. Metode yang umum digunakan adalah metode RAPD karena cepat, dan mudah. Berbagai metode analisis DNA yang baru terus berkembang. Analisis DNA menggunakan mikrosatelit, MuPS dan SCAR marker telah dikembangkan di laboratorium ini. Prosedur kerja untuk semua metode tersebut pada prinsipnya sama, yaitu ekstraksi, PCR dan elektrophoresis. Perbedaan prosedur kerja tergantung sampel yang digunakan, daun atau biji, dan metode yang dipilih. Adanya suatu petunjuk lengkap yang menguraikan semua prosedur yang dilakukan di laboratorium Genetika Molekuler, akan sangat membantu keberhasilan penelitian. Kerusakan atau kerugian yang disebabkan oleh patogen, serangga, polusi udara dan kondisi alamiah lain serta aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh manusia dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pohon. Identifikasi tanda dan gejala dari kerusakan yang terjadi merupakan informasi yang berharga yang diperhatikan dari kondisi hutan dan indikasi yang mungkin menyebabkan penyimpangan dari kondisi yang diharapkan. Untuk monitoring kesehatan hutan, tanda-tanda dan gejala-gejala kerusakan dicatat, didefenisikan, apakah kerusakan dapat mematikan pohon atau memberi pengaruh jangka panjang terhadap kemampuan bertahan dari pohon. Tipe kerusakan biasanya sangat spesifik dan masing-masing mempunyai nilai yang spesifik juga (Irwanto, 2006) B. Penyakit Jamur Karat Tumor Uromycladium tepperianum
Gejala Penyakit 1. Gejala pada Semai Gejala pada semai sangat bervariasi, dan kadang tidak terlihat secara jelas. Infeksi jamur karat pada semai umur 2-3 minggu menyebabkan daun mengeriting, melengkung dan tidak dapat berkembang dengan normal. Apabila di sentuh, daun terasa kaku dan mudah rontok. Semai menunjukkan pertumbuhan meninggi yang sangat lambat, kering dan mudah rontok. Pada semai yang lebih tua (umur 5 minggu), gejala nampak berupa pucuk yang melengkung, bila di raba terasa agak kaku. Pucuk semai yang terinfeksi, kadang menunjukkan adanya garis putih yang memanjang, jelas atau samar-samar. Di lapangan, gejala ini nantinya akan dengan cepat berkembang membentuk gall pucuk tersebut. Menurut Rahayu (2008), bentuk gejala yang lain dapat berupa pembengkokan batang, disertai bercak warna coklat pada bagian tersebut. Dilapangan, semai semacam ini akan menghasilkan tanaman yang bentuknya tidak lurus, dan pada pembengkokan tersebut akan muncul gall, sehingga batang mudah patah bila tertiup angin.
Semai umur 3 bulan atau lebih yang belum di tanam di lapangan, kadang gall berkembang membesar dan jamur memproduksi ratusan juta spora berwarna coklat yang relatif masih aktif di permukaan gall. Spora tersebut siap diterbangkan angin dan berperan sebagai sumber inokulum bagi semai ataupun tanaman muda sehat lain disekitarnya. Gall yang telah tua dan masak, serta memiliki jaringan yang masih baik, kadang digunakan oleh serangga type penggerek batang untuk meletakkan telur, yang kemudian akan berkembang menjadi larva. Kadang, orang terkeliru karena menyangka serangga tersebutlah yang menyebabkan gall. Padahal larva tersebut hanya sebagai sekunder atau menumpang pada gall saja ( Rahayu, 2008 ). 2. Gejala di Lapangan Di lapangan, semai yang telah terinfeksi jamur U. tepperianum sejak di pesemaian, akan cepat menunjukkan gejala. Namun, kecepatan pembentukan gejala akan sangat bergantung pada lokasi penanamannya. Pada tanaman muda sebelum umur 2 tahun, gejala umumnya berupa tumor yang terbentuk pada batang atau cabang, atau pada ruas-ruas cabang. Bentuk gall sangat bervariasi. Permukaan gall yang masih baru atau segar tampak dilapisi milyaran teliospora aktif berwarna coklat kemerahan, yang siap disebarkan melalui angin ke tanaman di sekitarnya.
Sebenarnya jamur U. tepperianum hanya mampu menginfeksi jaringan-jaringan tanaman yang muda. Dengan demikian kemungkinan terjadinya infeksi baru pada jaringan tanaman dewasa di lapangan adalah sangat kecil. Gejala pada tanaman dewasa pada dasarnya berasal dari infeksi yang terjadi pada tanaman muda atau bahkan dari semai. Hanya saja, karena respon setiap tanaman berbeda, dan lingkungan mikro di sekitar tanaman juga berbeda, maka gejala yang muncul saatnya juga berbeda-beda. Pada tanaman dewasa atau tua, gall sering nampak pada tajuk tanaman, terutama pada ujung ranting muda ataupun pada tangkai daun. Gall tersebut tidak merugikan pertumbuhan tanaman inangnya, namun secara aestetika nampak kurang menyenangkan hati. Terlebih, spora aktif pada gall tersebut nantinya dapat menjadi sumber inokulum potensial bagi tanaman muda atau pada semai disekitarnya (Rahayu, 2008). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit 1. Kondisi Tanaman Umumnya, semai maupun tanaman dewasa di lapangan yang tidak terserang karat tumor adalah tanaman yang memiliki kenampakan kokoh dan kuat. Walaupun demikian, tidak semua tanaman sengon yang memiliki kenampakan kuat tidak terserang oleh jamur U. tepperianum. Serangan karat tumor pada tanaman yang kokoh akan berdampak lebih kecil dibanding serangan pada tanaman yang mempunyai kenampakan lemah. Respon tanaman sengon terhadap penyakit karat tumor dipengaruhi oleh faktor genetik dari tanaman itu sendiri dan faktor lingkungan disekitar pertanaman. Benih yang berasal dari induk superior dengan karakteristik yang jelas, akan menghasilkan tanaman yang relatif kuat dan lebih toleran terhadap karat tumor. Sedangkan benih yang berasal dari sumber yang tidak jelas kualitasnya, cenderung akan memiliki respon yang buruk terhadap penyakit. Bibit sengon yang di tanam di hutan rakyat, pada umumnya diusahakan sendiri oleh petani dengan menggunakan biji yang tidak jelas asal-usul induk dan kualitasnya. Pada saat di pindahkan ke lapangan, semai akan berinteraksi dengan faktor lingkungan yang ekstrim dan beragam termasuk adanya infeksi jamur karat U. tepperianum. Hal ini akan berakibat fatal pada tanaman yang tidak memiliki kualitas baik. Di sisi lain, pada hutan tanaman yang diusahakan oleh pemerintah atau pengusaha, benih yang digunakan umumnya berasal dari sumber yang lebih jelas, meskipun belum seluruhnya menggunakan benih yang bersertifikat. Hal tersebut menjadi salah satu sebab serangan karat tumor di hutan rakyat lebih parah dan lebih bervariasi disbanding serangannya pada hutan tanaman. Namun, di sisi lain, adanya stratifikasi tajuk yang cenderung seumur dan seragam pada skala luas, menyebabkan penyebaran penyakit karat tumor di hutan tanaman menjadi lebih cepat dibanding penyebarannya di hutan rakyat (Rahayu, 2008). 2. Kondisi Lingkungan Umumnya, penyakit berkembang intensif di daerah dengan kelembaban tinggi. Adanya kabut baik di musim kemarau maupun musim penghujan berpotensi meningkatkan terjadinya penyakit karat tumor baik di pesemaian maupun di lapangan. Penyakit ini cenderung lebih cepat berkembang pada pertanaman sengon yang ternaung dibanding pada pertanaman yang terbuka. Demikian pula, adanya radiasi sinar ultra violet selama 5 jam berturut-turut, dapat menghambat perkecambahan teliospora jamur karat (Franje et al., 2001). Tanaman sengon yang tumbuh di tempat tinggi seperti di lereng bukit maupun gunung, berpeluang mendapatkan serangan karat tumor lebih besar dibanding tanaman sengon yang tumbuh di tempat rendah dan rata.Sebenarnya, ketinggian tempat bukanlah faktor utama yang dapat meningkatkan resiko terjadinya serangan jamur karat ini. Namun kondisi lingkungan seperti misalnya kelembapan yang tinggi, angin yang perlahan serta adanya kabut, umumnya terdapat di lokasi yang relatif tinggi. Pertanaman murni di hutan tanaman, mempunyai resiko yang lebih tinggi terhadap penyakit karat tumor dibanding pertanaman campuran di hutan rakyat. Namun, pengelolaan penyakit karat tumor di hutan rakyat, jauh lebih kompleks dibanding pengelolaan penyakit di hutan tanaman industri. Hal ini disebabkan lebih kompleksnya faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit karat tumor di hutan rakyat di banding di hutan tanaman. Dengan demikian, strategi pengendalian karat tumor di hutan rakyat perlu mendapat perhatian yang lebih besar, agar mendapatkan hasil yang optimal (Rahayu, 2007). C. Tahapan Inokulasi Spora Uromycladium tepperianum (Inokulum) pada pucuk semai Falcataria moluccana Benih sengon yang akan diuji kerentanannya terdiri dari 45 famili yaitu 40 famili dari Papua (20 famili dari Elagaima dan 20 famili dari Siba) dan 5 famili dari Jawa ( Candiroto, Karanganyar, Kediri, Wonogiri, dan Wonosobo ). Tahapan inokulasi spora U. tepperianum dimulai dengan pembuatan media tanam dan perkecambahan benih F. moluccana (Gambar 3.3a). Media yang digunakan sebagai tempat tumbuh sengon adalah tanah. Tanah tersebut dicampur dengan pupuk kemudian dimasukan ke dalam 720 pot (Gambar 3.3b). Tahap selanjutnya adalah menyiapkan 135 cawan diisi dengan tissue yang telah dibasahi dengan akuades. Sebelum ditabur, benih-benih tersebut direndam dulu dengan air yang telah dipanaskan 80º C selama ± 2 menit. Kemudian cawan-cawan tersebut diisi benih dari 45 famili dengan masing-masing family 3 cawan (3 kali ulangan) dan diberi identitas menggunakan label (Gambar 3.3c). Benih-benih tersebut didiamkan selama 2 hari sampai berkecambah(Gambar 3.3d). Sambil menunggu perkecambahan, penyusunan blok-blok tiap famili dapat dilakukan dengan 4 kali ulangan tiap famili dan dengan masing-masing ulangan terdiri dari 4 unit sampel. Setelah perkecambahan jadi, kecambah-kecambah tersebut mulai disapih dengan dipindahkan kecawan petri yang berisi air kran untuk dipindahkan ke media tanah dalam pot. Setelah semua rangkaian selesai, tanaman dibiarkan tumbuh sampai berumur 2 minggu(Gambar 3.3e). Setelah berumur 2 minngu selanjutnya penyusunan blok untuk tahapan inokulasi yaitu dengan blok terdiri dari 4 blok yaitu 1 blok sebagai blok kontrol dan 3 blok lainnya adalah blok untuk inokulasi dan uji intensitas serangan U.tepperianum dipersemaian untuk pengambilan data (Gambar 3.3f).
(3.3a)
(3.3b)
(3.3c)
(3.3d)
(3.3e)
(3.3f) Setelah semua benih tertanam, uji patogenisitas dilakukan menggunakan semai F. moluccana dengan cara inokulasi pada kebun uji di BBPBPTH Yogyakarta. Sebelum pengujian dilakukan, langkah pertama yang dilakukan adalah pengenceran inokulum spora secara steril untuk dihitung dan untuk proses inokulasinya (Gambar 3.4a dan 3.4b). Setelah spora dihitung dengan haemocytometer, selanjutnya dilihat sporanya menggunakan mikroskop dan difoto (Gambar 3.4c). Spora dihitung menggunakan rumus : "Spora = " (∑▒"spora " )/(∑▒"kotak " ) x fp Keterangan : ∑▒"konidia "∶ jumlah spora pada 4 kotak sedang, ∑▒"kotak " : jumlah 4 kotak sedang Fp (Faktor pengenceran) : 105
(3.4a)
(3.4b)
(3.4c) Inokulasi dilakukan satu minggu pertama sebanyak 3 kali, yaitu pada hari ke-1, hari ke-4, dan hari ke-7 (Gambar 3.5), prosesnya adalah sebagai berikut : 1. Inokulasi I ( Hari I ), Sengon disemprot dengan air kran, selanjutnya sitetesi spora, kemudian disemprot dengan spora lagi. Jumlah spora yang didapatkan adalah : L1+L2+L3+L4 x 105 = 26+19+18+23 x 105 = 2, 15 x 106 4 4 2. Inokulasi II ( Hari IV ), Sengon hanya disemprot dengan spora. Jumlah spora yang didapatkan adalah : L1+L2+L3+L4 x 105 = 16+11+11+8 x 105 = 1, 15 x 106 4 4 3. Inokulasi III ( Hari VII ), Sengon juga hanya disemprot dengan spora. Jumlah spora yang didapatkan adalah : L1+L2+L3+L4 x 105 = 21+14+15+8 x 105 = 1, 45 x 106 4 4
(a. Sengon disemprot air)
(b. Inokulasi dengan ditetesi spora)
(c. Inokulasi dengan disemprot spora ) D. Penentuan Intensitas Serangan ( Scoring ) Scoring dilakukan satu minggu sekali dengan mengamati gejala-gejala yang ada. Tabel 3.1 Penentuan Skor di Persemaian Skor Keterangan gejala 0 Tanaman sehat, tidak ada gejala 1 Gejala awal, ada infeksi, pucuk melengkung dan kaku 2 Pucuk melengkung dan kaku, ada garis putih atau cokelat muda pada pucuk, tangkai daun dan atau batang 3 Terdapat gall pada tangkai daun, atau pucuk daun 4 Terdapat gall pada pucuk dan atau batang 5 Semai mati, kering Scoring dilakukan selama 7 minggu, dan hasil scoring tertinggi terjadi pada minggu ke-5. Hasil scoring selanjutnya digunakan untuk menghitung jumlah individu yang terserang sehingga luas serangan (LS) diketahui dan untuk menghitung intensitas serangan karat tumor (IS) pada masing-masing famili. Perhitungna LS dan IS menggunakan rumus sebagai berikut : LS = n yang terkena x 100 % n total IS = jumlah skor x 100% Skor tertinggi x banyaknya ulangan Berdasarkan hasil uji ANOVA dengan BNT 5%, luas serangan total dan intensitas serangan total didapatkan bahwa dari ketiga famili ( EL, SKW, dan Jawa) tidak berberda nyata karena F hitung < F tabel. Artinya inokulasi spora jamur U. tepperianum pada sengon tidak berpengaruh pada masing-masing famili baik yang dari Papua ( EL dan SKW) maupun dari Jawa. Sedangkan pada hasil uji ANOVA dengan BNJ 5% luas serangan menunjukkan berbeda nyata pada masing-masing famili karena F hitung > F tabel. Artinya perlakuan inokulasi berpengaruh pada masing-masing famili baik yang Elagaima ( EL1 s/d EL 20), Siba ( SKW 1 s/d SKW 20) maupun yang dari Jawa ( Candiroto, Karanganyar, Kediri, Wonogiri, dan Wonosobo). Namun untuk intensitas serangannya tidak berbeda nyata karena hasil menunjukkan F hitung < F tabel sehingga perlakuan inokulasi tidak berpengaruh pada masing-masing famili (Data hasil uji ANOVA terlampir). Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa penyakit dapat menyebar karena dipengaruhi faktor internal inang, inokulum dan faktor lingkungan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rimbawanto ( 2008), bahwa Sebenarnya penyakit pada tanaman disebabkan oleh interaksi tiga faktor, yakni inang, penyakit dan lingkungan. Epidemi penyakit timbul bilamana ketiga faktor diatas berada dalam kondisi yang sesuai bagi perkembangan penyakit. Melihat pentingnya peran tanaman hutan, salah satunya Sengon bagi ekositem sekitar maka perlu ditingkatkan pengendaliannya terhadap penyakit yang menyerang khususnya karat tumor. Selain itu juga perlu dilakukan pemuliaan tanaman dan peningkatan ketahanan terhadap penyakit karat tumor. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan cara memanipulasi salah satu atau lebih faktor-faktor tersebut sehingga tercapai kondisi yang merugikan bagi pertumbuhan penyakit dan mencegah terjadinya infeksi oleh penyakit. Pemuliaan dan peningkatan ketahanan dapat dilakukan dengan cara memanipulasi tumbuhan inang dengan meningkatkan resistensi terhadap penyakit. Hal ini dapat dicapai dengan cara pemuliaan melalui seleksi tanaman yang secara genetik resisten terhadap penyakit tertentu. Resistensi juga dapat dicapai dengan memberikan dosis fungisida yang dapat mencegah infeksi pada tanaman. Lingkungan dapat dimodifikasi agar diperoleh kondisi yang optimal bagi pertumbuhan tanaman. Misalnya dengan memperbaiki drainase tanah, mengurangi kerapatan tanaman atau memberikan pupuk yang tepat. Tanaman yang tumbuh dalam kondisi yang tertekan umumnya akan lebih rentan terhadap infeksi penyakit (Rimbawanto, 2008). lampiran foto-foto
(Lokasi persemaian)
(Teman seperjuangan seperpanasan seperngusungan dan sepermbolangan : "Khafid Mukti Wijaksana")
(Laboratorium Hama dan Penyakit )
(suka duka dikala hujan melanda)
(gall rust)
(lokasi hutan pengambilan inokulum "kaliurang")
(Bersama partner Khafid Mukti Wijaksana, Pembimbing Siti Husna Nurrohmah S.Si, dan Saniyatun Mar'atus Solihah)

Sunday, 16 October 2011

LAPORAN PRAKTIKUM FITOPATOLOGI: PENGENALAN PENYEBAB PENYAKIT PADA TANAMAN

PENGENALAN PENYEBAB PENYAKIT PADA TANAMAN

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tanaman dikatakan sakit bila ada perubahan seluruh atau sebagian organ tanaman yang menyebabkan terganggunya kegiatan fisiologis sehari-hari. Secara singkat penyakit tanaman adalah penyimpangan dari keadaan normal. Penyebab sakit bermacam-macam antara lain cendawan, bakteri, virus, kekurangan air, kekurangan atau kelebihan unsur hara (Pracaya, 1999).
Berbagai penyakit yang umumnya timbul misalnya bercak daun, kudis, penyakit gosong, penyakit layu, penyakit karat dan penyakit embun tepung. Penyebabnya berbeda-beda, misal penyakit layu dapat disebabkan oleh bakteri ataupun jamur. Pengetahuan mengenai berbagai jenis mikroorganisme yang menyebabkan penyakit sangat diperlukan, sehingga kita bisa merencanakan bagaimana cara penanganan penyakit tersebut (Pracaya, 1999).
Penyebab penyakit dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu biotik atau parasit dan abiotik atau non parasit. Biotik yaitu penyebab penyakit yang sifatnya menular atau infeksius, msalnya jamur, bakteri, nematoda, mycoplasma dan tanaman tinggi parasitik. Abiotik yaitu penyebab penyakit yang sifatnya tidak menular atau non infeksius. Penyakit-penyakit karena penyebab abiotik sering disebut penyakit fisiologis/fisiogenis, sedangkan patogennya disebut fisiopath. Fisiopath tersebut antara lain kondisi cuaca yang tidak menguntungkan, kondisi tanah yang kurang baik, dan kerusakan karena mekanik dan zat-zat kimia (Semangun, 1994).


B. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui berbagai penyebab penyakit pada tanaman.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Penyakit tanaman dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu penyakit sistematik dan penyakit lokal. Penyakit sistematik adalah penyakit yang menyebar ke seluruh tubuh tanaman, sehingga seluruh tanaman akan menjadi sakit. Penyakit lokal adalah penyakit yang hanya tedapat disuatu tempat atau bagian tertentu, misalnya pada buah, bunga, daun, cabang, batang atau akar (Sunaryono, 1981).
Penyakit tanaman merupakan penyimpangan dari sifat normal yang menyebabkan tanaman tidak dapat melakukan kegiatan fisiologis seperti biasanya. Ada tiga faktor yang mendukung timbulnya penyakit yaitu tanaman inang, penyebab penyakit, dan faktor lingkungan. Tanaman inang adalah tanaman yang diserang oleh patogen. Patogen ada dua yaitu fisiopath yang bukan organisme dan parasit yang meruapakan organisme seperti jamur, bakteri, dan virus (Motoredjo, 1989). Fisiopath merupakan faktor lingkungan yang tidak tepat bagi tanaman, misalnya suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi, adanya gas beracun yang berasal dari pencemaran ataupun hasil samping metabolisme tanaman itu sendiri dan kurangnya unsur hara pada tanah (Pyenson, 1979). Cendawan yang menjadi patogen pada tanaman, mengganggu proses-proses fisiologis pada tanaman yang menjadi inangnya. Gangguan yang terus- menerus yang merugikan aktivitas tanaman disebut penyakit tanaman. Cendawan merugikan tanaman dalam hal pengangkutan zat cair dan garam mineral, mengganggu proses fotosintesa, serta mengganggu pengangkutan hasil-hasil proses fotosintesa. Cendawan dapat merusak akar, batang, daun, bunga dan buah, serta hasil tanaman di tempat penyimpanan (Tjahjadi, 1995).

Salah satu penyebab penyakit pada tanaman adalah jamur. Jamur masuk ke dalam divisio Thallopyhta, subdivisi fungi. Jamur adalah organisme yang tubuh vegetatifnya (struktur somatisnya) merupakan talus tidak mempunyai berkas pengangkutan. Struktur somatisnya biasanya berbentuk benang halus bercabang-cabang, mempunyai dinding sel yang tersusun oleh khitin, selulosa, serta mempunyai inti sejati. Patogen yang lainnya adalah virus dan bakteri. Bakteri patogen mempunyai penyebaran dari tanaman satu ke tanaman yang lain melalui air, serangga, hewan laindan manusia (Triharso, 1996). Menurut Donowidjojo dkk (1999), reproduksi jamur pada umumnya dengan pembentukan spora sebagai hasil dari proses reproduksi aseksual dan seksual. Reproduksi jamur dapat dibagi menjadi dua yaitu:

1. Reproduksi aseksulal

Umumnya reproduksi seksual melibatkan beberapa metode dimana individu baru dapat diperbanyak dari induknya. Proses tersebut tidak melibatkan penyatuan inti, gamet atau gametogenium (sex organ). Reproduksi aseksual dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
a. Fragmentasi yaitu proses pembelahan sel-sel pada miselium/hifa. Fragmen hifa dari jamur tertentu dalam sel-sel disebut oidium atau arthospora. Kadang-kadang pada sel-sel terminal atau interkalar dalam bangkakan hifa disebut klamidospora.
b. Fission dari talus uniseluler.
c. Budding yaitu reproduksi jamur secara aseksual dengan cara membentuk tunas/kuncup.
d. Spora aseksual pada suatu spesies berfungsi dalam perbanyakan/multiplikasi, perbanyakan, penyebaran, dan perthanan hidup. Terdapat dua kelompok besar spora aseksual yang dikenal yaitu:
 Sporangiospora yaitu spora yang dihasilkan di dalam sporangium. Sporangiospora pada jamur tingkat rendah dapat motile (planospora) dan non motil (aplanospora).
 Konidium. Ada dua tipe konidium yang dikenal yaitu thallospora dan konidiospora. Thallospora dibentukm dalam hifa dengan perkembangan sel-sel terminal atau interkalar. Thallospora terdiri dari dua yaitu oidium atau arthospora dan klamidosprora. Konidiospora dibentuk pada ujung hifa khusus disebut konidiofor. Konidium dan konidiofor dapat dikelompokkan dalam sporofor yang terdiri dari piknidium, aservulus, sporodosium, dan sinnema.

2. Reproduksi seksual

Reproduksi seksual pada jamur selalu melibatkan 2 inti haploid yang kompatibel. Dibagi ke dalam 3 fase yaitu:
a. Plasmogami yaitu percampuran antara 2 sel seksual. Plasmogami terdiri dari 5 tipe yaitu:
 Kopulasi planogamet yaitu suatu cara reproduksi seksual dimana gamet yang motil bercampur. Kopulasi planogamet terdiri dari 3 tipe yaitu:
• Isogamet yaitu reproduksi secara seksual yang berlangsung dengan persatuan antara gamet jantan atau betina yang mempunyai bentuk dan ukuran yang sama
• Anisogamet yaitu reproduksi secara seksual yang berlangsung dengan persatuan antara gamet jantan dan betina yang mempunyai bentuk sama tetapi ukurannya berbeda
• Heterogamet yaitu reproduksi secara seksual yang berlangsung dengan persatuan antara gamet jantan dan betina yang sama sekali berbeda baik bentuk maupun ukurannya.
 Kontak gametogonium yaitu suatu cara plasmogami dimana gamet kedua gametetangium diresedur menjadi protoplas dan hanya satu inti dari masing-masing yang berfungsi dalam kariogami.
 Kopulasi gametangium yaitu suatu cara reproduksi seksual dimana terjadi percampuran yang menyeluruh dari gametangium.
 Spermatisasi yaitu pemindahan spermatium atau mikrokonidium dari spermogonium kepada hifa reseptif. Spermogonium yaitu struktur yang menyerupai piknidium pada Uredinales. Hifa reseptif yaitu hifa yang dikhususkan untuk menerima spermatium sehingga terjadi spermatisasi.
 Somatogami yaitu percampuran sel-sel somatik pada proses plasmogami menggantikan sel seksual.
b. Kariogami yaitu percampuran antara dua inti
Semua jamur tumbuhan menghabiskan hampir sebagian hidupnya pada tumbuhan inangnya dan sebagian di dalam tanah atau sisa tumbuhan di dalam tanah. Beberapa jamur melewati seluruh hidupnya pada inangnya dan mungkin hanya spora yang mendarat di tanah, tetapi spora tersebut tidak aktif sampai terbawa kembali ke inang tempat mereka dapat tumbuh dan memperbanyak diri. Bakteri penyebab penyakit tanaman merugikan tanaman dalam hal pengangkutan air, proses fotosintesa, pengangkutan zat makanan dan proses fisiologisnya. Bakteri dapat mengeluarkan enzim hipertropi yang akan mengakibatkan tanaman menderita paru (kanker atau bengkak) pada akar, batang, daun, dan buah (Tjahjadi, 1995).

III. METODE

A. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum adalah mikroskop cahaya dan satu set perlengkapan menggambar.
Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah preparat awetan Puccinia graminis, P. arachidis, P. sorghii, Pyricularia sp, Ustilago zeae, Erysiphe sp, Venturia inaequalis, Fusarium sp, Cercospora sp, Phytophtora infestans, Plasmophora viticola dan Plasmodiophora brassicae.

B. Cara Kerja
1) Gejala penyakit pada tumbuhan / bagian yang sakit diamati dan digambar.
2) Diamati dan dicatat gejala penyakit yang ada.
3) Gejala yang sudah digambar dicocokkan dengan pustaka.

C. Lokasi dan Waktu
Praktikum pengenalan penyebab penyakit tanaman dilakukan di laboratorium Mikologi dan Fitopatologi Fakultas Biologi Unsoed Purwokerto pada hari Selasa, 13 Oktober 2009.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Penyakit karat (rust) disebabkan oleh cendawan Puccinia graminis (karat pada daun serelia), P. arachidis (karat pada daun kacang tanah), dan P. shorgii (karat daun shorgum). gejala dari penyakit ini adalah terdapatnya bintil pada daun yang berwarna kuning kemerahan, seperti warna karat besi (Tjahjadi, 1995). Gejala pada tanaman jagung yang terinfeksi penyakit karat adalah adanya bisul (pustules = sori), terutama pada daun. Bisul terbentuk pada kedua permukaan daun bagian atas dan bawah. Bisul dengan warna coklat kemerahan tersebar pada permukaan daun dan berubah warna menjadi hitam kecoklatan setelah teliospora berkembang. Pada saat terjadi penularan berat, daun menjadi kering. Pengendalian Penyakit karat dapat dikendalikan dengan cara:
• Penanaman varietas tahan (Arjuna, Bromo, Rama, C3, Pioneer-2, Pioneer- 3, CPI-2, Semar-1, Semar-2).
• Aplikasi fungisida pada saat mulai tampak bisul karat pada daun.
Penyakit karat pada kacang tanah disebabkan oleh cendawan Puccinia arachidis dikenal sejak tahun 1970, setelah banyak varietas introduksi dikenalkan di Indonesia (Somaatmadja, 1967). Patogen ini menyerang daun kacang tanah biasanya bersama-sama dengan penyakit bercak daun yang disebabkan oleh cendawan Cercospora sp. dan akibat kedua penyakit ini, hasil tanaman kacang tanah menurun 27-38% (Sudjono, 1986). Pada umumnya varietas lokal kacang tanah sangat rentan terhadap penyakit ini. Gejala Penyakit karat cendawan Puccinia arachidis Speg. pada daun terdapat bercak-bercak coklat muda sampai coklat (warna karat). Daun gugur sebelum waktunya. Pengendaliannya dapat menggunakan varietas yang resisten, tanaman yang terserang dicabut dan dibakar. Sedangkan untuk pencegahan dapat menggunakan Natural GLIO pada awal tanam.
Penyakit yang disebabkan oleh Pucinia graminis disebut penyakit karat. Gejalanya ditunjukkan dengan adanya bercak-bercak seperti karat pada daun, pelepah dan baatng. Bercak-bercak berwarna kuning dilingkari warna merah di sebelah bawah permukaan daun yang sakit. Pucinia graminis mempunyai beberapa fase pertumbuhan meliputi fase piknium (0), fase aesium (I), fase uredium (II) dan fase telum (III). Piknium berbentuk botol atau cakra, badan buah ini sebagai pembawa alat kelamin jamur yaitu spermatium atau alat kelamin jantan dan hifa atau alat kelamin betina. Aesium berbentuk seperti mangkuk atau cawan yang menembus dinding epidermis daun. Uredium merupakan badan buah yang sel-selnya membentuk urediospora di bawah epidermis yang kemudian mendeasak epidermis hingga rusak. Telium adalah sekelompok sel berinti dua yang membentuk teiospora. Jamur ini menyebabkan penyakit karat pada daun serealia, misalnya gandum. Penyebaran spora secara jarak jauh misalnya dengan bantuan angin dapat terjadi karena jamur ini mempunyai spora yang tahan terhadap kekeringan dan sinar matahari yang disebut dengan urediospora. Penyebaran yang seperti itu menyebabkan penyakit yang kosmopolitis atau tersebar seluruh dunia (Semangun, 2001).

Puccinia arachidis menyebabkan penyakit karat pada daun kacang-kacangan. Gejala yang ditimbulkan adalah pada daun yang terserang akan muncul bintil-bintil yang berwarna kuning kemerahan seperti warna karat pada besi. Tanaman yang terserang berat akan mati dan terserang ringan hanya akan menurunkan produksi hingga 30-50% (Martoredjo, 1989).
Penyakitnya disebut karat daun pada sorghum. Gejalanya adalah bercak kuning pada daun. Puccinia sorghii membentuk urediosorus panjang atau bulat panjang pada daun. Epidermis pecah sebagian dan masa spora akan dibebaskan menyebabkan urediosorus berwarna coklat atau coklat tua. Urodiospora yang masak akan berubah menjadi hitam bila teliospora terbentuk (Semangun, 2001).
Phyricularia sp menyebabkan penyakit bercak daun pada daun jagung. Gejala dapat ditunjukkan dari bercak coklat tua mengering. Bercak daun mempunyai tepi yang jelas, bergelang, berwarna coklat muda kekuningan, agak basah, lalu mengering menjadi berwarna coklat keputihan dan berbintik hitam. Serangan parah penyakit ini menyebabkan kerobohan tanaman (Semangun, 2001).
Ustilago zeae menyebabkan penyakit yang menyerang tanaman jagung terutama pada tongkolnya. Tongkol yang diserang kelihatannya membengkak ada yang kecil dan ada yang besar, mula-mula jamur ini berwarna keputihan sebab masih tertutup membran. Kemudian berubah menjadi lebih tua, ungu muda dan menyerang tongkol, daun, kuncup-kuncup buku pada batang, pada rangkaian bunga, dan bagian-bagian yang lain Pembengkakan telah masuk membran yang menutup menjadi kering dan pecah kemudian akan keluar spora berbentuk tepung kering yang hitam. Jamur ini biasanya menginfeksi pada tanaman jagung yang telah setinggi 30 cm-1,5 m dan tongkolnya baru keluar rumbai-rumbai (Pracaya, 1995).
Eryshipe sp menyebabkan penyakit bernama embun tepung kacang-kacangan. Gejalanya mula-mula pada permukaan atas daun terdapat bercak putih yang menutupi seluruh permukaan daun. Serangan parah menyebabkan daun layu dan rontok (Semangun, 2001). Penyakit ini menyerang pada waktu musim panas, jamur yang membentuk miselium tebal yang menutupi daun, batang, bunga dan buah. Penyakit ini juga menyebabkan tanaman gagal berbuah. Jamur tepung dapat disebabkan oleh angin (Pracaya, 1995).
Venturia ineaqualis menyebabkan penyakit kudis pada buah apel. Gejala yang umum dijumpai pada daun dan buah yaitu mula-mula adanya bintik-bintik hijau olive, lama kelamaan makin luas dan tertutup oleh lapisan berwarna coklat hitam yang merupakan kumpulan miselium dan konidium jamur penyebab penyakit (Sastrahidayat, 1996). Menurut Tjahjadi (1995) menyatakan bahwa bercak tembus pandang pada daun lama-kelamaan bercak tersebut menjadi bergabus. Warna mula-mula kuning bening kemudian menjadi coklat seperti kudis. Penyebaran spora oleh angin, serangga ataupun alat-alat pertanian.

Fusarium sp. menyebabkan penyakit layu pada tomat. Gejala yang ditimbulkannya patogen akan menyerang pembuluh xylem tanaman sehingga tanaman kehilangan turgor dan layu. Jika dibelah pembuluh di dalam berwarna coklat (Martoredjo, 1989). Jamur mengadakan infeksi melalui akar, terutama melalui luka-luka, atau melalui luka pada akar yang terjadi akibat munculnya akar lateral. Jamur memakai bermacam-macam luka untuk jalan infeksinya, misalnya luka karena pemindahan bibit, karena pembumbunan, atau luka karena serangga. Jamur dapat menginfeksi buah, sehingga terdapat kemungkinan bahwa jamur terbawa oleh biji. Jamur tersebar setempat-setempat karena pengangkutan bibit, tanah yang terbawa angin atau air oleh alat pertanian (Semangun, 2001).
Penyakit layu Fusarium disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporium. Layu Fusarium terjadi karena media tanaman terlalu masam dan basah/lembab berlebihan. Gejala serangan ditandai dengan memucatnya tulang daun sampai berubah menjadi coklat keabu-abuan, kemudian diikuti dengan menunduknya tangkai yang membusuk. Apabila perbatasan antara akar dan batang dipotong, maka akan terlihat cincin cokelat kehitaman diikuti busuk basah pada berkas pembuluh (Emirgarden, 2008). Prawirodihardjo (1984), menambahkan adakalanya daun menguning dan tanaman kerdil. Apabila serangannya hebat warna daun menjadi coklat dan buahnya kecil-kecil.
Cercospora sp. menyebabkan penyakit bercak daun pada daun kacang tanah. Jamur ini membentuk konidium pada kedua sisi daun, walaupun lebih banyak pada sisi atas. Stroma kecil dengan garis tengah 25-100 µm, coklat tua. Konidiofor membentuk rumpun kecil, 5 sampai banyak berwarna cokelat kehijauan pucat atau coklat kekuningan, pangkalnya lebih gelap, mempunyai bengkokan seperti lutut, bersekat 15-45 x 3-6 µm. Serangannya disebut ’bercak daun awal’ (early leaf spot) (Semangun, 2001).

Penyakit bercak daun kacang tanah yang disebabkan oleh Cercospora ditandai dengan adanya bercak kecil berbentuk bulat kering. Bercak meluas sampai garis tengahnya ± 0.5 cm. pusat bercak berwarna pucat sampai putih. Daun menguning dan mudah gugur. Selain daun, penyakit ini menyerang juga batang-batang tangkai buah. Pada musim kemarau dan pada lahan yang mempunyai drainase yang baik, penyakit ini kurang berkembang. Penyakit ini, kadang-kadang menyerang persemaian (Dasperlintan, 2008). Phytophtora infestans menyebabkan penyakit hawar daun kentang, yaitu merupakan penyakit yang paling merusak tanaman kentang. Gejalanya daun yang sakit terlihat adanya bercak-bercak pada ujung dan tepi daunnya dan dapat meluas kebawah serta mematikan dalam waktu 1-4 hari jika udara lembab. Seluruh daun akan menghitam, layu dan menjalar ke seluruh batang. Sisi bawah daun kelihatan jamur kelabu yang terdiri dari konidiospora dengan konidianya. Umbinya juga dapat diserang sehingga menjadi busuk basah maupun busuk kering. Permukaan umbi terdapat bercak yang sedikit cekung sedalam 3-6 mm, warnanya coklat atau hitam keunguan dan bagian yang terserang penyakit relatif keras (Pracaya, 1995). Menurut Prawirodihardjo (1984), penyakit busuk pada kentang disebabkan oleh sejenis cendawan karat Phytophtora infestans. Daun bagian bawah terdapat bercak-bercak kelabu kekuningan dan bentuknya tidak teratur. Bercak tersebut lama-kelamaan menjadi kecoklatan, tumbuh bulu-bulu halus keputihan (kumpulan spora yang mudah berpindah ke tanaman lain). Bercak daun menyebar cepat ke bagian batang dan akar, dan tanaman akan segera mati. Umbi kentang yang sudah terkena serangan Phytophtora infestans akan mudah menulari umbi kentang yang lainnya sehingga kentang tersebut bila disimpan akan cepat membusuk sehingga tidak mungkin digunakan lagi dan apabila ditanam lagi, tunas yang tumbuh masih tetap membawa bibit penyakit sehingga dengan mudah menulari tanaman sekitarnya.

Plasmophora viticola menyebabkan penyakit embun tepung pada tanaman anggur. Jamur ini menyerang daun, tangkai daun, sulur, bunga, buah, tunas dan batang anggur. Gejala ditunjukan dengan permukaan bawah terdapat bercak putih susu dari bulu-bulu halus yang merupakan konidiospora dan spora. Bercak-bercak yang tua akan menjadi coklat karena matinya jaringan daun di kedua belah permukaan. Serangan hebat mengakibatkan tunas menjadi kerdil memilin dan selanjutnya daun juga menjadi kecil sehingga tunas mati. Bunga yang terserang maka akan mati, buah muda akan terhambat pertumbuhannya dan besarnya berkurang. Permukaan buah kelihatan ada jamur yang warnanya abu-abu, buah menjadi hitam kering dan keriput (Pracaya, 1995).
Penyakit embun tepung (powdery mildew) dapat disebabkan oleh Plasmophora viticola (embun tepung anggur), dan Erysiphe sp. (embun tepung kacang-kacangan). Gejala awal ditandai dengan adanya tepung putih pada daun terbawah dari tanaman. daun yang terserang kemudian menjadi kuning, coklat dan akhirnya mengering. Lama kelamaan daun akan terserang semua dan dapat mengakibatkan kematian pada tanaman. Cendawan berkecambah pada saat suhu rendah dan lembab, sedangkan pada cuaca panas, kering dan angin merupakan kondisi yang cocok untuk penyebaran spora ke tanaman inang lain (Tjahjadi, 1995).

Plasmodiphora brassicae menyebabkan penyakit akar pekuk kubis-kubisan. Penyakit pada suatu sistem perakaran dengan gejala akar-akarnya menjadi membesar dan menyatu seperti gada sehingga disebut akar gada atau setiap akar membentuk seperti jari kaki sehingga disebut juga penyakit jari kaki. Tanaman yang diserang akan menjadi kerdil dan warna daun menjadi abu-abu. Akar yang pernah terinfeksi jika terkena infeksi sekunder bisa menjadi busuk (Pracaya, 1995). Plasmodiophora brassicae merupakan cendawan patogenik dari kelas Plasmodiophoromycetes. Cendawan ini mempunyai nilai ekonomi yag penting karena penyebarannya yang dapat menyebabkan akar pekuk pada kubis. Siklus hidupnya diawali ketika germinasi kista. Tiap kista akan melepaskan zoospore yang dapat menginfeksi tanaman inang (Alexopoulus and Mims, 1979).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Penyebab penyakit tanaman dapat disebabkan oleh bakteri, virus, ataupun jamur.

2. Karat daun pada kacang-kacangan disebabkan oleh Puccinia arachidis. Karat daun pada serealia disebabkan oleh Puccinia graminis. Karat daun pada sorghum disebabkan oleh Puccinia sorghii. Embun tepung pada kacang-kacangan disebabkan oleh Eryshipe sp. Gosong pada jagung disebabkan oleh Ustilago zea. Bercak daun pada pisang disebabkan oleh Phyricularia sp. Kudis pada apel disebabkan oleh Venturia ineaqualis. Layu pada tanaman tomat disebabkan oleh Fusarium oxyporum. Bercak daun pada kacang-kacangan disebabkan oleh Cercospora sp. Embun tepung pada anggur disebabkan oleh Plasmophora viticola. Hawar pada daun kentang disebabkan oleh Phytophtora infestans Akar pekuk pada kubis-kubisan disebabkan oleh Plasmodiphora brassicae

DAFTAR REFERENSI

Alexopoulus, C.J. and C.W. Mims. 1979. Introductory Mycology. Third Edition. John Willey and Sons, New York.

Dasperlintan. 2008. Metode Pengamatan Opt Tanaman Sayuran.

Donowidjojo, S., H. A. Djatmiko dan N. Prihatiningsih. 1999. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Fakultas Pertanian Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto.
Emirgarden, 2008. Penyakit Tanaman Hias. http//www.balitdeptan.go.id.

Martoredjo, T. 1989. pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan, Bagian dari Perlindungan Tanaman. Andi Offset, Yogyakarta.

Pracaya. 1995. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya, Jakarta.

_________. 1999. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya, Jakarta.

Prawirodihardjo, S. 1984. Mengenal Hama dan Penyakit Tanaman. CV. Indrapres, Yogyakakarta

Pyenson, L. 1979. Fundamental Of Entomology and Plant Patology. Avi Publishing Co. Wasport Press, Yogyakarta.

Sastrahidayat, I. R. 1996. Penyakit-Penyakit Tanaman Holtikultura di Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Semangun, H. 2001. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

_____________. 1994. Penyakit-penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Somaatmadja, S. 1967. Pemuliaan Kacang Tanah. Lembaga Pusat Penelitian Pertanian Bogor.

Sudjono, M.S. 1986. Pengaruh Penyakit Karat ( P. Arachis) dan Penyakit Bercak Daun ( Cercospora Sp.) Terhadap Hasil Kacang Tanah. Palawija 2:356-362. Pengelolaan Penyakit Prapanen Jagung.

Sunaryono, H. 1981. Pengantar Pengetahuan Dasar Hortikultura. Sinar Baru, Bandung.
Tjahjadi, N. 1995. hama dan Penyakit Tanaman. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Triharso. 1996. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Amorphophallus gigas Teijsm. & Binn

Amorphophallus gigas Teijsm. & Binn   Bunga langka koleksi Kebun Raya Bogor telah mekar sempurna pada Minggu (6/10/2019) den...